Sabtu, 03 September 2016

ini kisah wajib kamu baca!!!" Pak Ustadz Tolong Hentikan, Saya Sudah Tidak Tahan Lagi "

++++++++++++++++
+++++++++++++++++++++


Tahun 2010, saya lakukan survey dengan bertanya pada beberap wanita bekerja. Pertanyaan saya begitu simpel, “Bu, bagaimana perasaan ibu dengan keadaan ibu bekerja sekarang ini, lebih terasa cukup hanya suami saja bekerja atau terasa lebih cukup dengan ibu turut bekerja?

90% perempuan bekerja menjawab, “Saya terasa cukup dengan cuma suami saja yang bekerja ketimbang sekarang ini saya turut bekerja. ”

Beberapa istri yang saya survey itu mengakui malah dengan dianya bekerja, utang keluarga malah jadi tambah, walau sebenarnya kemauan awalannya supaya utang suami tak jadi tambah kronis. Dahulu semuanya yang dikehendaki senantiasa dapat tercukupi namun dengan turut bekerja jadi senantiasa kurang, tak ada yang cukup.

Sesudah beberapa istri ini sharing mengenai keadaannya, lantas saya ajukan pertanyaan pada, “Ibu tahu tak penyebabnya kenapa dahulu waktu suami ibu yang bekerja semua terpenuhi serta saat ini ibu bekerja malah senantiasa kurang? ”




Ibu-ibu itu menggeleng. Mereka cuma heran harusnya dengan turut bekerja keperluan rumah tangga jadi kian lebih cukup.

Saya berikan begini pada ibu-ibu itu :
Keberkahan rezki ibu sudah hilang, ibu-ibu tahu kenapa hilang? Begini, dahulu waktu suami ibu saja yang bekerja ibu masihlah pernah mengurusi anak-anak pergi sekolah. Ibu masihlah pernah bangunkan suami untuk shalat malam. Ibu masihlah pernah membikinkan sarapan untuk dia.
Serta saat suami ibu pulang kerja, ibu telah cantik berdandan rapi untuk menyingkirkan kelelahan suami ibu sore itu. Ibu masak yang terenak untuk suami serta masihlah pernah membacakan dongeng untuk anak-anak saat bakal tidur serta masihlah “fresh” waktu suami ibu mengajak bercinta.

Namun waktu ibu bekerja sekarang ini, ibu lebih awal kan pergi dari suami? Lantaran ibu masuk jam 7 pagi lantaran cemas terlambat serta jauh ibu pergi jam 5. 30 walau sebenarnya mungkin suami barusan mandi. Anak-anak belum tertangani pakaian sekolahnya, bahkan juga mungkin diantara mereka tidak ada yang sarapan lantaran Ibu lupa sediakan. Iya kan bu? ’ Kata saya pada mereka.

Diantara ibu-ibu yang bekerja ini mulai menangis. Saya memohon izin untuk melanjutkan taujih di sore itu.

“Dan saat suami ibu pulang, ibu belum pulangkan lantaran ibu disuruh lembur oleh boss ibu di pabrik. Saat suami telah ada dirumah jam 5 sore, ibu masihlah bergelut dengan pekerjaan hingga jam 8 malam. Suami ibu bingung ke mana dia menyampaikan ceritanya hari itu dia mencari nafkah. Anak-anak ibu belum mandi bahkan juga mungkin diantara mereka ada yg tidak shalat Maghrib, lantaran tak ada yang mengingatkannya. Lalu ingin makan pada akhirnya makan seadanya, cuma masak mie serta telur lantaran cuma itu yang mereka dapat masak.

Suami ibu cuma makan itu bahkan juga nyaris setiap malam, sedang ibu baru pulang jam 9 hingga dirumah di waktu anak-anak ibu telah capek lantaran banyak bermain, bahkan juga diantara mereka masihlah ada yang bau lantaran tidak mandi. Suami ibu terkapar tertidur lantaran kelelahan, lantaran suami ibu menanti kehadiran ibu. Keadaan ibu juga capek, begitu capek bahkan juga, ibu bahkan juga berbulan-bulan tak dapat terkait intim dengan suami lantaran kelelahan…. ”

Ibu bekerja untuk memberi keuangan keluarga namun ibu kehilangan beberapa hal. Beberapa hal yang pokok jadi tak usai. Beberapa hal yang ibu lakukan di pabrik juga tak optimal lantaran hati ibu sedih tak miliki peluang mengurusi suami serta anak-anak. Baju suami serta anak-anak kumal, kuku anak-anak panjang, rambut anak-anak gondrong serta tidak tertangani.

Ibu-ibu itu makin kencang menangisnya, diantara mereka menyampaikan “Hentikan ustadz, saya tidak tahan lagi, hentikan”, sang ibu itu memeluk rekan yang di sampingnya serta menangis.

Sore itu saya berupaya mengemukakan keharusan saya sebagai dai. Katakan yang benar itu meskipun mesti bikin hati sedih. Di penutup saya mengemukakan, “Tidak ada larangan buat ibu bekerja dengan satu prasyarat, pekerjaan pokok ibu tak ada permasalahan, tak ada hak-hak suami serta anak-anak yang menyusut yang bisa mengakibatkan ketidak berkahan duit yang ibu peroleh dari bekerja. Yakinkan itu semuanya tak ada permasalahan serta bekerjalah sesudah itu”

Adzan Maghrib sore itu hentikan ceramah saya di sela tangis ibu-ibu yang menginginkan selekasnya pulang untuk berjumpa dengan suami serta anak-anak mereka
++++++++++++++++++++++++++

Related Posts

ini kisah wajib kamu baca!!!" Pak Ustadz Tolong Hentikan, Saya Sudah Tidak Tahan Lagi "
4/ 5
Oleh